Yang Lebih Bernilai dari Hanya Sekedar Kuliah


Pecros.com - Bagi adek2 yang belum keterima SNMPTN dan SBMPTN enggak usah bersedih, bagi yang keterima jangan berbesar kepala.
Saya dulu juga merasakan gagal di SNMPTN undangan. Hancur leburlah hati saya.
Sedikit cerita nih, semoga bisa menjadi motivasi. Setelah gagal SNMPTM undangan, saya iseng ikut tes sebanyak-banyaknya sebagai bagian dari balas dendam. Yup, saya ikut tes ujian masuk di 5 Universitas. Kaget, dari 5 tes masuk tersebut ternyata saya lolos semua. Seneng, sekaligus bingung mau masuk di universitas mana.
Dari kelima universitas tsb ada satu universitas idaman saya yaitu UI, keterima dari jalur SimakUI. Tapi orang tua berkehendak lain. Karena waktu itu tidak mempersiapkan dana sepeserpun untuk kuliah.
Akhirnya sy mengikuti kehendak orang tua untuk memilih UB Malang, sebab di situ sy mendapatkan beasiswa full gratis sampai 8 semester, malah dikasih uang saku 800ribu perbulan oleh negara.
Tunggu dulu, enggak usah tepuk tangan. 😝ceritanya masih panjang. Selama kuliah saya merasa hambar, sy sering berpikir kuliah kok enggak ada manfaatnya. Mulai dari semester 1 sampai semester 2 saya menjadi kutu buku karena merasa tidak mendapatkan apa-apa dari kuliah. Puncak kejenuhan saya ada di semester 3, sampai akhirnya saya memutuskan untuk bisnis. Kuliah jadi prioritas terakhir, yang penting pokoknya bisnis. Bosan kuliah pelajarannya juga seperti mengulang waktu SMA. Pelajaran grammar Betty Azar itu sudah saya baca waktu kelas 1 SMA. Kok sekarang dijadikan pelajaran semester 3.
Nah awal saya mulai bisnis semester 3. Segala macam bisnis mulai bikin bimbel sampai jualan terasi sudah saya jalankan. Namun semuanya gagal alias bangkrut. Padahal uang yang saya pakai itu adalah dana beasiswa untuk kebutuhan sehari-hari.
Akhirnya saya kembali fokus kuliah. Sudah semangat-semangatnya kuliah ngerjain skripsi, eh malah dapat inspirasi bisnis lagi. Skripsi berhenti di bab 3 sampai sekarang semester 10 belum tersentuh.
Bukannya ngelanjutin skripsi, eh malah makin gila bisnis. Sampai banyak tawaran mitra dari segala macam tetek bengek, salah satunya dari mbah google. Anak sastra kok utak atik IT. Sebenarnya Itu bagian dari hasil saya mempelajari buku IT waktu semester satu dan dua. Sy sedikit bisa bahasa pemprograman dasar dan mempelajari alogaritma google, dan sedikit ilmu marketing dan tata kelola usaha. Semua itu dari buku yang saya baca waktu semester 1 dan 2. Padahal saya jurusan sastra inggris.
Dari sini saya sudah mulai sadar, kuliah itu tidak hanya untuk mencari ijazah lalu ijazah tersebut digunakan untuk melamar kerja. Atau lebih parah lagi, kuliah itu bukan untuk gengsi-gengsian biar dikira keren masuk universitas favorit.
Sampai sekarang saya belum lulus kuliah. Bukannya pamer tapi ini tahaddust bin ni'mah, semester 8 saya beli mobil dari hasil uang sendiri. Semester 9 sy beli tanah, semester 10 sy memberangkatkan ortu umroh.
Tidak usah tepuk tangan. Biasa aja keleus. 😝 Esensi pencapaian saya bukan itu. Itu cuma sekedar pembuktian saja. Bahwa tujuan kuliah untuk mencari pekerjaan adalah salah, apalagi untuk gaya-gayaan. Tujuan kuliah adalah untuk membuatmu sadar bahwa ada yang lebih penting dari struktur pendidikan formal (sekolah dan kuliah), yaitu ilmu dan pengalaman.
Maafkeun tulisan yang amburadul ini. Belum sempet edit
Rifan Herriyadi
Mahasiswa yang belum lulus kuliah.

Kisah Kesederhanaan Presiden Gus Dur sebagai Santri


pecros.com - Jika diamati, foto-foto Gus Dur bersama kepala negara lain senantiasa dalam pose lepas dan natural. Lebih dari itu, kepala negara asing selalu kelihatan giginya karena menyungging tawa. Silahkan cek foto Gus Dur bersama Bill Clinton, Yaser Arafat, Hugo Chavez, Fidel Castro dll. Semua senyum karena Gus Dur mengawali diplomasinya melalui humor. Bahkan, kabarnya, rakyat Saudi Arabia baru kali itu melihat Raja Fahd ketawa lepas dan kelihatan giginya akibat lontaran joke Gus Dur.

Namun, di antara sekian banyak foto bersejarah, yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Gus Dur sebagai seorang pemimpin 240 juta rakyat Indonesia mencium tangan KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati. Beliau, yang baru saja dilantik, langsung sowan ke Mbah Dullah sekaligus berziarah ke makam ulama oposisi yang hidup pada abad 18, Kiai Mutamakkin. Nama terakhir dipercaya sebagai waliyullah yang di kemudian hari menurunkan ulama-ulama di wilayah Pati, antara lain KH. MA. Sahal Mahfudz dan KH. Bisri Sjansuri.

Tak ada ekspresi berlebihan manakala Mbah Dullah, seorang hamilul Qur'an yang zuhud dan wira'i, menerima kabar kedatangan Gus Dur. Adapun Gus Dur datang melalui pintu belakang ndalem Mbah Dullah, melewati jemuran, kemudian menghampiri tuan rumah.

"Niki kulo, Durrahman, datang sebagai SANTRI," ujar Gus Dur sembari mencium tangan pamanda KH. MA. Sahal Mahfudz itu.

Ini yang bagi saya berkesan. Bisa saja GD sebagai presiden datang dengan iring-iringan para pengawal beberapa lusin. Bisa saja sebagai kepala negara beliau datang dengan kapasitas grandeur, besar dan agung, sesuai dengan citra seorang pemimpin Indonesia. Tidak, Gus Dur tidak bakal seperti itu. Beliau tetap bangga menjadi SANTRI, yang nyaris saja menolak memakai sepatu--dan merasa gatal-- karena lebih sering bersandal!

Sebagai pemimpin, Gus Dur mengulang kembali riwayat para raja Nusantara yang harus melepas kebesarannya, keagungannya, sebelum sowan ke seorang brahmana dan pertapa. Para raja yang tahu diri datang hanya dengan kediriannya saja, tanpa embel-embel statusnya, hanya berjubah polos nan kasar, datang menaiki gunung, menaklukkan bebukitan, sekadar menjumpai guru-guru spiritual. Meminta petunjuk mereka.

Gus Dur tahu betul bagaimana harus menghadapi ulama zuhud sekelas Mbah Dullah. Beliau mengulang kembali episode Harun Arrasyid yang diiringi mahapatihnya saat merendahkan diri sowan ke kediaman sufi agung, Imam Fudhail bin Iyadh, ketika pemimpin negara mendatangi ulama, bukan sebaliknya.
***
Sebagai santri, beliau mempromosikan pesantren dan pola pikir kiai melalui tulisan-tulisannya di Kompas, Suara Pembaruan, Prisma hingga Tempo. Di era 1970-an, kiai dan pesantren lebih banyak dipandang sinis oleh para muslim modernis dan Indonesianis. Melalui berbagai tulisan Gus Dur, citra tersebut dipatahkan. Beliau berusaha memperkenalkan mutiara-mutiara terpendam di pesantren: para kiai dengan corak pemikiran dan kelebihan masing-masing. Kolom tentang para kiai ini dimuat secara berkala di Tempo lalu dibukukan dengan judul "Kiai Nyentrik Membela Pemerintah". Adapun tulisan GD dengan ragam tema lebih luas dan beragam dikumpulkan di buku "Melawan Melalui Lelucon".

Melalui ulasan tentang para kiai, Gus Dur tampil sebagai seorang santri yang memperkenalkan (kembali) guru-gurunya ke khalayak ramai. Tulisan yang cerdas, cermat, menggelitik dan padat (sesuai standar Tempo).

Kelak, ketika menjadi presiden, GD tetap sebagai seorang berjiwa santri. Karena itu beliau enjoy saja mengundang para sahabatnya (tentu yang sudah jadi kiai) itu untuk datang ke istana negara. Karena jiwa santrinya yang melekat bersama dengan kepolosan-kepolosan yang tampak "ndeso" ini, Franz Magnis Suseno pernah heran melihat tumpukan beberapa kardus Sarimi berisi pakaian yang ada di sebelah ruang makan Istana Negara.
"Itu kardus isinnya pakaian siapa sih, kok ditumpuk begitu?" tanya pria kelahiran Jerman itu.
"Itu milik Presiden Gus Dur. Mau dibawa lawatan ke Tiongkok." kata seorang staf kepresidenan enteng.

Romo Magniz takjub sekaligus geleng-geleng: seorang kepala negara mengemas pakaiannya dalam kardus, persis orang mau mudik?


Diambil dari status facebook Gus Rijal Mumazziq Zionis

Menghabisi Afi karena membenci gagasannya


pecros.com - Percakapan tentang Afi anak umur 18 tahun kini makin ramai di berandaku. Entah itu para pembencinya, para pengkritiknya, maupun para pendukungnya. Akhirnya tenggelamlah berita kasus korupsi yang merugikan negara dan kasus pornografi yang merusak moral bangsa. Tak usah disebut siapa namanya, takut kena perkusi mbuh perkutut.

Jangan GR dulu, saya di sini juga enggak pingin ngomongin kasus duo tokoh sengkuni tersebut. Malah saya pingin ngomongin Afi juga biar kayak orang-orang.

Memang obrolan tentang Afi juga tak boleh dibiarkan menguap begitu saja, karena ada hal yang sangat esensial yaitu pesan-pesan yang dibawakannya. Isi pesan-pesan itu jauh lebih penting daripada sekedar pertanyaan apakah Afi menulisnya sendiri atau menjiplak tulisan orang lain.

Kenapa tulisan Afi sampai seviral itu hingga dibaca jutaan manusia. Dugaan saya, karena tulisan tersebut mengandung gagasan “frontal” yang belum tentu terpikirkan oleh orang dewasa. Apalagi penulisnya cuma seorang anak berusia 18 tahun. Terlepas dari pembaca yang setuju gagasan tersebut maupun yang menolaknya.

Mereka yang mempermasalahkan plagiat-plagiut bukanlah profesor-profesor bahasa bukan pula penulis aslinya. Namun ada dua tipe orang, yaitu mereka yang membenci gagasan Afi dan orang-orang yang iri karena kalah beken dengan anak kecil hahaha..


Tak masalah bagi orang-orang yang iri terhadap kepoluleran Afi, karena hal itu manusiawi. Namun, orang-orang yang ingin menghabisi Afi karena membenci gagasannya, membenci ajakan toleransi, membenci ajakan perdamaian, merindukan perang. Sorry, kalian tak layak tinggal di Indonesia guys. Indonesia bukan negara konflik. Jika kalian menginginkan perang, pergilah sana ke timur tengah. Saya sangat mendukung, asal yang kalian bela bukan ISIS namun rakyat yang tertindas di sana.

Salam damai

Gus Dur, "Karma" dan Fitnah Licik Para Sengkuni

Gus Dur dilengserkan dari kursi presiden

pecros.com - Beginilah detik-detik saat Gus Dur keluar dari Istana. Kenapa Gus, jenengan dilengserkan oleh mereka?? Padahal fitnah dan tuduhan mereka akan kasus Bulog gatte dan Brunai gatte gak terbukti dan sedikitpun masuk kerekeningmu? Tidak seperti dia, yang sudah jelas-jelas ada duit transferan 600 juta di rekening y yang konon kisahny karena duit korupsi ALKES.
Dulu saat engkau di lengserkan dari Kursi Presiden, engkau terima dengan lapang dada dan jiwa kesatria prilaku Genk mereka yang melengserkan jenengan. Kau memilih menenangkan pasukan berani matimu tuk kembali ke daerah. Engkau memilih kedamaian agar tidak terjadi pertumpahan darah sebangsa dan setanah air. Engkau MENGORBANKAN KURSI KEKUASAANMU DEMI UTUHNYA NKRI. Para pendukung dan pasukan berani matimu tidak pernah menuduh bahwa peristiwa yang menimpamu adalah "KRIMINALISASI ULAMA". Padahal engkau Cucu Hadaratus Syech Mbah KH Hasyim Asy'ari, Putra KH Wahid Hasyim dan Mantan Ketum PBNU 2 priode.
Semua fitnah dan tuduhan kau terima dengan jiwa yang lapang meski para loyalismu marah tapi engkau bisa menenangkan mereka dan tidak menyuruh mereka tuk DEMONTRASI ke jakarta dengan nomor cantik dan berjilid-jilid.
Kini para sengkuni yang melengserkanmu lambat laun menemuai KARMANYA. Tabir kepalsuan mereka perlahan-lahan di buka. Masyarakat jadi tahu siapa mereka yang selama ini berjubah dan bersorban agama sebagai topeng KEBUSUKAN mereka. Dari kasus ALKES hingga kasus PORNOGRAFI.
Gus, tuduhan mereka atasmu menyakitkan kita sebagai warga negara. Karena fitnah keji itu kau lengser dari Presiden. Gus, sekarang pendukung mereka minta tuk di maafkan karena manusia tempatnya salah dan dosa serta jauh dari kesempurnaan. Mereka lupa denga prilaku licik dan fitnah kejam mereka padamu. Benar katamu Gus "Tak ada Jabatan yang Harus Dipertahankan Mati-Matian", "Maafkan Saja Mereka Tapi Jangan Lupakan Prilakunya".
Gus, bangsa ini banyak belajar mereka sama sifat kesantrianya jenengan. Dan bangsa ini harus belajar bagaimana berbangsa dan bernegaranya jenengan yang lebih mementingkan persatuan dan kesatuan NKRI ketimbang mempertahankan kekuasaan. Tidak seperti para SENGKUNI yang melengserkanmu. Mereka selalu merong-rong NKRI dan memprovokasi SARA.
Gus, bangsa ini membutuhkan sosokmu. Bangsa ini merinduknmu Gus. Gus, meski engkau telah tiada tapi warisan perjuanganmu tetap menjadi spirit kami dalam berbangsa dan bernegara.

Dawuh Habib Luthfi tentang Pancasila, Nasionalisme dan Merah Putih


Pecros.Com - Dalam berbagai kesempatan Maulana Habib Luthfi bin Yahya tak henti-hentinya menitipkan pesan yang sangat penting bagi penerus bangsa Indonesia perihal Pancasila, Nasionalisme, Merah-Putih, Cinta Tanah Air, dan NKRI. Berikut adalah diantara pesan-pesan beliau:

1. “Saya salut banyak bendera Merah-Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air. Dalam Merah-Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?"

2. "Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan. Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda."

3. "Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama."
4. "Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa."

5. “Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Saw. mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh kongkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI."

6. “Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya."

7. “Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam'iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik."

8. “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran."

9. "Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral 'ini' adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun."

10. “Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah Swt. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah Swt. untuk memiliki Bangsa Indonesia.”

11. “Bendera Merah Putih adalah harga diri Bangsa, kehormatan Bangsa. Jika kita mau bercermin kepada Bendera Merah Putih semestinya kita malu menjadi Bangsa. Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri Bangsa, pada sang saka Merah Putih.”

12. “Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, melainkan setiap hari Senin dan upacara kebangsaan yang lain. Cinta kepada Bangsa selalu ditanamkan melalui pengibaran sang saka Merah Putih. Kalau kita tidak cinta pada NKRI, untuk apa kita harus melakukan upacara bendera, hormat kepada sang saka Merah Putih?”

13. “Betapa pentingnya cinta tanah air, salah satu contohnya dengan menghormati Bendera Merah Putih. Meskipun jahit atau bikin merah putih itu gampang, namun banyak darah yang mengucur, banyak pengorbanan yang penuh rasa sakit demi menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Bendera Merah Putih. Sehingga sebagai anak Indonesia kita harus mempunyai penghormatan yang luar biasa kepada Merah Putih, harus menyucinya dan merawatnya dengan penuh perasaan cinta.”

14. “Kecintaan pada partai jangan melebihi mata kaki. Kecintaan pada bangsa dan negara sampai ke leher. Kecintaan pada agama melebihi ujung kepala.”

15. “Yang memperjuangkan Bangsa ini adalah para ulama, kiai dan pejuang Muslim yang tak sempat dianugerahi bintang gerilnya. Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti kesatuan Bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah. Wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan Negara ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.”

16. “Semangat nasionalisme sekarang ini semakin menurun. Itu terlihat dari sikap dan perilaku para elit, termasuk juga masyarakatnya yang tidak pernah rukun. Selalu ribut dalam perbedaan, khilafiyah. Segala sesuatu selalu dipolitisir dan dihubung-hubungkan, yang akhirnya hanya saling menyalahkan. Hingga akhirnya, Indonesia hanya dijadikan lintasan saja oleh bangsa lain. Saya tidak ingin masalah khilafiyah ini dibesar-besarkan, yang ujung-ujungnya hanya menjadikan Indonesia negara yang selalu jadi tontonan. Padahal Indonesia dengan segala potensinya, mampu menjadi negara yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu tugas umat Islam agar Indonesia bisa maju dan sejajar dengan negara-negara lain.”

17. “Umat Islam seharusnya memasang gambar-gambar para pahlawan, khususnya pahlwan Islam, seperti Pangeran Diponegoro, juga gambar-gambar para wali, termasuk pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini agar setiap warga yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan yang ada di gambar itu. Semangat untuk membela negara, semangat untuk memerdekakan negara, semangat kepahlawanannya. Bukan bermaksud syirik maupun menyekutukan Tuhan dengan gambar-gambar itu, tetapi semangat yang dimiliki para pahlawan itu untuk dikenang dan diamalkan di zaman sekarang ini. Bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Mereka yang sudah syahid, tidak tinggal diam untuk bangsa dan generasi penerusnya.”

18. “Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab Pancasila akan dimiliki semua pihak. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau di beck-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan. Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik. Sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.”

19. “Nasionalisme secara filosofis sudah dicontohkan oleh para leluhur, para pendahulu bangsa semenjak penajajahan seperti sedekah bumi, sedekah laut, ‘terlepas dari persoalan syirik/musyrik’, karena saya tidak tahu hati orang. Sedekah bumi dan sedekah laut itu adalah wujud syukur atas bumi dan laut yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia. Sedekah bumi itu sebagai bentuk handar beni, perasaan yang bukan saja memiliki tapi juga mencintai.”

20. “Siapapun yang menjadi pemimpin bangsa, harus dihormati dan ditaati. Jika rakyat menghormati pemimpinnya maka Bangsa dan Negara ini akan kuat. Sebaliknya jika rakyat terus menerus mengkritik, mendemo, dll., pemimpinnya, maka kapan pemerintah akan bisa fokus bekerja. Saya tidak melarang ‘kritik’, akan tetapi salurkan kritik dan aspirasi itu pada saluran yang sudah disediakan pemerintah.”

21. “Aliran-aliran di luar Ahlussunnah yang meresahkan, mereka adalah kelompok Islam yang menolak Pancasila dan menganggap pemerintah tidak sah. Untuk mengatasi kelompok Islam seperti ini perlu ditekankan pentingnya sosialisasi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Jangan sampai anak seorang tokoh NU, menjadi anggota Islam radikal.” (Muslimedianews)

Hari ini (Rabu, 30 November 2016) seluruh Indonesia memperingati Nusantara Bersatu. Indonesiaku Indonesiaku Indonesia kita bersama. Bhineka Tunggal Ika. Maulana Habib Luthfi bin Yahya rela berorasi untuk menyuarakan persatuan dan kesatuan. Acara berlangsung pagi ini di Simpang Lima Semarang, bersama Pangdam, TNI, POLRI pemerintah daerah dan masyarakat. Ayooo kibarkan Merah Putih

NKRI HARGA MATI
Ditulis oleh: Abdul Wahab (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1162925340450473&set=a.417026628373685.95970.100001990541883&type=1&theater)

Ratusan Santri dan Pelajar Sidoarjo Sarasehan Bareng NU Online dan TV9 Nusantara

Savic Ali Direktur Nutizen

Pecros.Com - Lebih dari 100 peserta dari kalangan santri pondok pesantren, pelajar, mahasiswa dan ormas se-Sidoarjo mengikuti sarasehan santri on digital bareng NU Online, TV9 Nusantara dan Rifan Herriyadi Google Adsense publisher di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Selasa (18/10).

Wakil Bupati Sidoarjo, H Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan, sarasehan santri on digital ini merupakan serangkaian acara dalam rangka memperingati Hari Santri 2016. Dengan adanya sarasehan ini, santri dan pelajar bisa menggunakan gadget atau internet dengan baik.

Direktur NU Online, Savic Ali menyatakan bahwa santri penting menggunakan internet. Agar bisa mensosialisasikan atau mensyiarkan konten islami yang menyejukkan.

"Pada era 95 ke bawah, masyarakat mencari informasi atau data di google. Tapi 95 ke atas banyak masyarakat yang menggunakan internet termasuk YouTube. Untuk itu santri perlu memahami dan bisa menguasai Internet," kata salah satu pendiri NUTIZEN itu.

Sementara itu, Direktur TV9 Nusantara, Hakim Jayli menjelaskan, saat ini media sosial semakin meluas dan berdampak pada kian derasnya lalu lalang informasi (termasuk kegunaan) yang belum tentu benar dan baik bagi masyarakat.

Media masih didominasi oleh konten kapitalisme/hedonisme/sukularisme di satu sisi dan konten agama yang cenderung dangkal, sempit, oleh karena itu menjadi tidak luwes, keras bahkan radikal.

"Pesantren cenderung masih menjadi pemirsa, pembaca, audiens, belum banyak yang menjadi penyedia konten cenderung merespon dari pada pemberi umpan. Jangan hanya mendapat abu sejarah tapi kalau bisa mendapatkan api," ujar Hakim.

Rifan Herriyadi, google adsense publisher mengatakan, para narasumber menyampaikan bagaimana cara memfiltrasi media, sehingga didapatkan informasi yang lebih akurat dan tidak menimbulkan kesimpang siuran berita.

Rifan juga memberikan pelatihan untuk memanfaatkan facebook untuk mendapatkan uang. Ia mengaku prihatinan karena masih banyak pengguna sosial media yang hanya menggunakannya untuk kepentingan pribadi yang kurang berguna.

"Saat ini, hanya 10 persen santri yang memiliki blog dan banyak yang belum memiliki blog, kami berharap para peserta bisa membuat blog dan website yang berlandaskan Aswaja An-Nahdliyah. Maka kami menyatakan untuk menggunakan akun sebagai dakwah dan bisa memanfaatkan media untuk mendapatkan uang salah satunya pelatihan bisnis online dan peningkatan traffic untuk website" kata Rifan. (Moh Kholidun/Fathoni)