Menghasilkan Ribuan Dolar Meski Masih Nyantri di Pesantren, Bisa!


Pecros.com - Dulu, banyak santri yang memiliki keinginan kuat menjadi guru atau ustadz setelah boyong dari pondok pesantren. Seiring perkembangan teknologi komunikasi, kini, banyak santri yang justru ingin mandiri dengan memanfaatkan peluang usaha melalui optimasi teknologi, santripreneur. Bahkan bisa menghasilkan ribuan dolar.

Hal itulah yang dikatakan oleh Hasan Chabibie ST., M.SI saat menjadi pemateri dalam Workshop Technopreneurship Hari Santri 2017 bertema "Membangun Spirit Technopreneurship di Kalangan Pelajar dan Santri di Era Teknologi Informasi" bersama ratusan peserta di Ponpes Al-Islah, Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/08/2017) siang.

Walau sudah diajarkan mandiri sejak masuk menjadi santri baru, namun banyak peserta workshop yang kebanyakan adalah santri di Pati, mengeluhkan keterbatasan aktivitas online mereka di dalam pondok pesantren sehingga cukup tertinggal mengupdate perkembangan teknologi informasi.

Namun, bagi Hasan yang juga pejabat di Pustekkom Kemdikbud RI tersebut, halangan itu bisa diatasi dengan sistem kontrol. "Sediakan fasilitas wifi untuk belajar tapi tetap ada yang kontrol kegiatan para santri di ruang tersebut," ujarnya.

Hasan juga mengingatkan, membatasi santri mengakses internet memang untuk kebaikan mereka agar terhindar dari akses pornografi, "lawan paling berat di dunia maya itu pornografi," kata mantan Ketua PW IPNU Jateng tersebut sambil menjelaskan bahwa akses porno memang masih mengkhawatirkan, tidak hanya untuk kalangan santri.

Meski begitu pun, banyak santri "kreatif" yang tetap bisa memanfaatkan internet di luar jam belajar pesantren. Narasumber lain yang saat itu hadir, yakni Rifan Herriyadi, memberikan contoh bahwa dulu ketika dia mondok sangat bisa memanfaatkan waktu untuk belajar ngeblog, menulis dan bisnis online sampingan di luar jam belajar pondok.

"Internet sekitar pondok kan bisa diakses jika tujuan kita positif. Menghasilkan ribuan dolar meski di pesantren sangat mungkin bisa, dan saya sudah membuktikan," ujar Rifan, alumni YPRU Guyangan Trangkil Pati yang juga nyantri di Ponpes Tahfidzul Qur'an Nurul Furqon itu, kepada peserta.

"Yang penting, jangan habiskan waktu di pondok hanya untuk kongkow dan ngerumpi dengan teman sekamar di pesantren," tambah Hasan Chabibie memberi pesan setelah Rifan memberikan materi praktik menjadi santri technopreneur.

Workshop Technopreneurship kemarin masuk sebagai rangkaian kegiatan Hari Santri (Hasan) 2017 bertema "Santri Mandiri, NKRI Hebat" oleh Pengurus Pusat Rahithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, terselenggara atas kerjasama PC IPNU Pati dan AIS Jawa Tengah.

Hadir sebagai pembuka acara adalah Kepala Balai Pustekkom Jateng, Didik Wira Samudra, SH, M.Kom.

Kata Ketua Panitia, Irham Shodiq S.Pd.I, peserta yang hadir dalam workshop adalah kalangan pelajar, santri, mahasiswa, guru, dan warga masyarakat yang ingin belajar menjual hasil trasi dan produk lokal dari Trangkil via online. 

Editor: Abdalla Badri
[dutaislam.com/ab]

Klik Ikuti dan Konfirmasi untuk Mendapatkan Update

Muria News: Omzet Santri Asal Pati ‘Musuh’ Jonru Ini Capai Ratusan Juta per Bulan

Rifan Herriyadi

Pecros.com - Nama Rifan Herriyadi tidak asing lagi di kalangan warganet Indonesia. Dia dikenal sebagai pemuda pertama yang berani “head to head” dengan Jonru di meja persidangan.
Selain dikenal sebagai aktivis medsos, santri asal Desa Krandan, Trangkil, Pati ini ternyata punya bisnis online dan offline dengan omzet ratusan juta rupiah setiap bulannya. Di usianya yang masih 25 tahun, Rifan menjadi salah satu pengusaha muda asal Pati yang sukses.
“Saya sudah suka bisnis sejak kelas satu SMA, mulai dari jadi agen pulsa, usaha bimbingan belajar, usaha penerjemah, bisnis terasi, sampai trading forex yang sering gagal. Dulu, saya hampir saja putus asa,” ujar Rifan kepada MuriaNewsCom, Senin (11/9/2017).
Berkat keuletan dan kesabarannya, mahasiswa semester akhir Universitas Brawijaya ini berhasil membangun bisnis melalui CV Diginusa Dafelindo yang bergerak di bidang produksi pakaian.
Tak hanya itu, dia juga dipercaya Google sebagai salah satu mitra terbaik Google Asia Pasific di bidang ads publisher. Meski masih mahasiswa, Rifan sudah mempekerjakan lebih dari 20 orang.
Sebagian besar pekerjanya justru sudah sarjana. Dia bertekad terus mengembangkan bisnisnya, sehingga bisa membuka lowongan pekerjaan dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Ditanya soal nilai pasti omzet, Rifan masih malu-malu dan enggan membeberkannya. Namun, ia memastikan bila omzetnya sudah mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Kepeduliannya pada Indonesia di tengah arus informasi yang begitu deras, Rifan juga membangun komunitas masyarakat peduli sosial media. Sebuah komunitas yang dibangun untuk tujuan bisnis dan analisa informasi hoax.
“Warganet sekarang banyak yang kurang bijaksana dalam memanfaatkan media sosial. Kami ingin membangun komunitas yang bisa memanfaatkan medsos untuk bisnis, analisa framing suatu informasi dan bagaimana menganalisa berita hoax,” ucap Rifan.
Dalam bisnis, kata dia, ada banyak hal yang harus disikapi dengan bijak. Misalnya, bisnis itu mesti punya nilai manfaat kepada orang lain.
Selain itu, seseorang tidak boleh putus asa saat mengalami kegagalan. Bagi dia, kegagalan adalah sesuatu yang berharga. Sebab, dari kegagalan seseorang bisa belajar untuk menjadi lebih baik.
Nama Rifan mencuat setelah dilaporkan oleh Jonru ke Polda Metro Jaya atas dugaan kasus pencemaran nama baik. Jonru juga melaporkan Akhmad Sahal (@Sahal_AS) atas kasus yang sama.
Editor : Ali Muntoha

Klik Ikuti dan Konfirmasi untuk Mendapatkan Update

Workshop Technopreneurship Bersama Pustekkom Kemendikbud di Pesantren Al-Islah

Antusiasme peserta: Rifan Herriyadi (kiri) saat sedang menyampaikan materi Workshop Technopreneurship di Ponpes Al Islah, Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/08/2017)

Pecros.com - Banyak orang sekarang ini lebih suka menggunakan jasa antar berbasis teknologi daripada meminta anak atau saudaranya membelikan makanan ke luar rumah.

"Lebih cepat pesan go food daripada perintah adiknya beli ke luar rumah," kata Hasan Chabibie ST., M.SI., narasumber dari Pustekkom Kemdikbud RI dalam Workshop Technopreneurship di Ponpes Al-Islah, Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/08/2017) siang.

Menurutnya, kepraktisan produk teknologi melahirkan transaksi busnis yang lebih murah karena memotong sekian jalur distribusi. Aplikasi semacam Go-Jek dan lainnya adalah bentuk nyata dari bisnis yang menggunankan teknologi sebagai basis perkembangan.

Dalam tehnopreneurship, lanjut Hasan, sebuah inovasi mencoba menemukan antara pengguna (user) produk dengan teknologi kreatif sehingga terciptalah pasar. "Tolong, yang muda-muda pintarlah mencari apa saja sih peluang tekologi untuk mmenuhi kebutuhan pasar," ujar Hasan yang juga mantan Ketua PW IPNU Jateng itu, di hadapan ratusan hadirin workshop.

Walau banyak yang belum menciptakan inovasi teknologi, setidaknya pemanfaatan teknologi untuk wirausaha terus didorong agar bisa mengurangi intelektual tanpa bekerja, utamanya di kalangan lulusan SMK yang menurut Hasan masih banyak menyumbang angka tinggi pengangguran.

"Anak-anak SMK itu dididik terampil menggunakan teknologi, tapi sayangnya setelah lulus mereka tidak banyak dibekali bagaimana cara menggunakannnya sehingga menjadi technopreneur," tandas Hasan, didampingi narasumber lainnya, praktisi technopreneur, Rifan Herriyadi.

Rifan yang kemudian membincang technopreneurship dari sisi praktisnya menyebutkan bahwa daftar orang kaya di dunia kini tidak lagi didominasi oleh pebisnis konvensional, "dominasi jumlah orang kaya sekarang bergeser ke bisnis teknologi," jelasnya.

Kepada peserta, Rifan juga menjelaskan banyaknya paluang bisnis via internet yang pernah dia lakukan, mulai dari menulis konten berbayar, menjadi youtuber, optimasi website untuk jualan online hingga pemanfaatan media sosial.

"Keuntungan menggunakan sarana teknologi internet itu bisa menjalankan bisnis 24 jam, modal kecil, dan hemat promosi," imbuh Rifan yang juga santri alumni Guyangan, Trangkil, Pati ini mengakhiri materinya.

Dalam workshop yang terselenggara atas kerjasama PC IPNU Pati dan AIS Jawa Tengah tersebut, hadir pula Kepala Balai Pustekkom Jateng, Didik Wira Samudra, SH, M.Kom., sebagai pembuka acara.

Kata Ketua Panitia, Irham Shodiq S.Pd.I, peserta yang hadir dalam workshop adalah kalangan pelajar, santri, mahasiswa, guru, dan warga masyarakat yang ingin belajar menjual hasil trasi dan produk lokal dari Trangkil via online. 

Editor: Abdalla Badri
[dutaislam.com/ab]

Klik Ikuti dan Konfirmasi untuk Mendapatkan Update

Yang Lebih Bernilai dari Hanya Sekedar Kuliah


Pecros.com - Bagi adek2 yang belum keterima SNMPTN dan SBMPTN enggak usah bersedih, bagi yang keterima jangan berbesar kepala.
Saya dulu juga merasakan gagal di SNMPTN undangan. Hancur leburlah hati saya.
Sedikit cerita nih, semoga bisa menjadi motivasi. Setelah gagal SNMPTM undangan, saya iseng ikut tes sebanyak-banyaknya sebagai bagian dari balas dendam. Yup, saya ikut tes ujian masuk di 5 Universitas. Kaget, dari 5 tes masuk tersebut ternyata saya lolos semua. Seneng, sekaligus bingung mau masuk di universitas mana.
Dari kelima universitas tsb ada satu universitas idaman saya yaitu UI, keterima dari jalur SimakUI. Tapi orang tua berkehendak lain. Karena waktu itu tidak mempersiapkan dana sepeserpun untuk kuliah.
Akhirnya sy mengikuti kehendak orang tua untuk memilih UB Malang, sebab di situ sy mendapatkan beasiswa full gratis sampai 8 semester, malah dikasih uang saku 800ribu perbulan oleh negara.
Tunggu dulu, enggak usah tepuk tangan. 😝ceritanya masih panjang. Selama kuliah saya merasa hambar, sy sering berpikir kuliah kok enggak ada manfaatnya. Mulai dari semester 1 sampai semester 2 saya menjadi kutu buku karena merasa tidak mendapatkan apa-apa dari kuliah. Puncak kejenuhan saya ada di semester 3, sampai akhirnya saya memutuskan untuk bisnis. Kuliah jadi prioritas terakhir, yang penting pokoknya bisnis. Bosan kuliah pelajarannya juga seperti mengulang waktu SMA. Pelajaran grammar Betty Azar itu sudah saya baca waktu kelas 1 SMA. Kok sekarang dijadikan pelajaran semester 3.
Nah awal saya mulai bisnis semester 3. Segala macam bisnis mulai bikin bimbel sampai jualan terasi sudah saya jalankan. Namun semuanya gagal alias bangkrut. Padahal uang yang saya pakai itu adalah dana beasiswa untuk kebutuhan sehari-hari.
Akhirnya saya kembali fokus kuliah. Sudah semangat-semangatnya kuliah ngerjain skripsi, eh malah dapat inspirasi bisnis lagi. Skripsi berhenti di bab 3 sampai sekarang semester 10 belum tersentuh.
Bukannya ngelanjutin skripsi, eh malah makin gila bisnis. Sampai banyak tawaran mitra dari segala macam tetek bengek, salah satunya dari mbah google. Anak sastra kok utak atik IT. Sebenarnya Itu bagian dari hasil saya mempelajari buku IT waktu semester satu dan dua. Sy sedikit bisa bahasa pemprograman dasar dan mempelajari alogaritma google, dan sedikit ilmu marketing dan tata kelola usaha. Semua itu dari buku yang saya baca waktu semester 1 dan 2. Padahal saya jurusan sastra inggris.
Dari sini saya sudah mulai sadar, kuliah itu tidak hanya untuk mencari ijazah lalu ijazah tersebut digunakan untuk melamar kerja. Atau lebih parah lagi, kuliah itu bukan untuk gengsi-gengsian biar dikira keren masuk universitas favorit.
Sampai sekarang saya belum lulus kuliah. Bukannya pamer tapi ini tahaddust bin ni'mah, semester 8 saya beli mobil dari hasil uang sendiri. Semester 9 sy beli tanah, semester 10 sy memberangkatkan ortu umroh.
Tidak usah tepuk tangan. Biasa aja keleus. 😝 Esensi pencapaian saya bukan itu. Itu cuma sekedar pembuktian saja. Bahwa tujuan kuliah untuk mencari pekerjaan adalah salah, apalagi untuk gaya-gayaan. Tujuan kuliah adalah untuk membuatmu sadar bahwa ada yang lebih penting dari struktur pendidikan formal (sekolah dan kuliah), yaitu ilmu dan pengalaman.
Maafkeun tulisan yang amburadul ini. Belum sempet edit
Rifan Herriyadi
Mahasiswa yang belum lulus kuliah.

Klik Ikuti dan Konfirmasi untuk Mendapatkan Update

Kisah Kesederhanaan Presiden Gus Dur sebagai Santri


pecros.com - Jika diamati, foto-foto Gus Dur bersama kepala negara lain senantiasa dalam pose lepas dan natural. Lebih dari itu, kepala negara asing selalu kelihatan giginya karena menyungging tawa. Silahkan cek foto Gus Dur bersama Bill Clinton, Yaser Arafat, Hugo Chavez, Fidel Castro dll. Semua senyum karena Gus Dur mengawali diplomasinya melalui humor. Bahkan, kabarnya, rakyat Saudi Arabia baru kali itu melihat Raja Fahd ketawa lepas dan kelihatan giginya akibat lontaran joke Gus Dur.

Namun, di antara sekian banyak foto bersejarah, yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Gus Dur sebagai seorang pemimpin 240 juta rakyat Indonesia mencium tangan KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati. Beliau, yang baru saja dilantik, langsung sowan ke Mbah Dullah sekaligus berziarah ke makam ulama oposisi yang hidup pada abad 18, Kiai Mutamakkin. Nama terakhir dipercaya sebagai waliyullah yang di kemudian hari menurunkan ulama-ulama di wilayah Pati, antara lain KH. MA. Sahal Mahfudz dan KH. Bisri Sjansuri.

Tak ada ekspresi berlebihan manakala Mbah Dullah, seorang hamilul Qur'an yang zuhud dan wira'i, menerima kabar kedatangan Gus Dur. Adapun Gus Dur datang melalui pintu belakang ndalem Mbah Dullah, melewati jemuran, kemudian menghampiri tuan rumah.

"Niki kulo, Durrahman, datang sebagai SANTRI," ujar Gus Dur sembari mencium tangan pamanda KH. MA. Sahal Mahfudz itu.

Ini yang bagi saya berkesan. Bisa saja GD sebagai presiden datang dengan iring-iringan para pengawal beberapa lusin. Bisa saja sebagai kepala negara beliau datang dengan kapasitas grandeur, besar dan agung, sesuai dengan citra seorang pemimpin Indonesia. Tidak, Gus Dur tidak bakal seperti itu. Beliau tetap bangga menjadi SANTRI, yang nyaris saja menolak memakai sepatu--dan merasa gatal-- karena lebih sering bersandal!

Sebagai pemimpin, Gus Dur mengulang kembali riwayat para raja Nusantara yang harus melepas kebesarannya, keagungannya, sebelum sowan ke seorang brahmana dan pertapa. Para raja yang tahu diri datang hanya dengan kediriannya saja, tanpa embel-embel statusnya, hanya berjubah polos nan kasar, datang menaiki gunung, menaklukkan bebukitan, sekadar menjumpai guru-guru spiritual. Meminta petunjuk mereka.

Gus Dur tahu betul bagaimana harus menghadapi ulama zuhud sekelas Mbah Dullah. Beliau mengulang kembali episode Harun Arrasyid yang diiringi mahapatihnya saat merendahkan diri sowan ke kediaman sufi agung, Imam Fudhail bin Iyadh, ketika pemimpin negara mendatangi ulama, bukan sebaliknya.
***
Sebagai santri, beliau mempromosikan pesantren dan pola pikir kiai melalui tulisan-tulisannya di Kompas, Suara Pembaruan, Prisma hingga Tempo. Di era 1970-an, kiai dan pesantren lebih banyak dipandang sinis oleh para muslim modernis dan Indonesianis. Melalui berbagai tulisan Gus Dur, citra tersebut dipatahkan. Beliau berusaha memperkenalkan mutiara-mutiara terpendam di pesantren: para kiai dengan corak pemikiran dan kelebihan masing-masing. Kolom tentang para kiai ini dimuat secara berkala di Tempo lalu dibukukan dengan judul "Kiai Nyentrik Membela Pemerintah". Adapun tulisan GD dengan ragam tema lebih luas dan beragam dikumpulkan di buku "Melawan Melalui Lelucon".

Melalui ulasan tentang para kiai, Gus Dur tampil sebagai seorang santri yang memperkenalkan (kembali) guru-gurunya ke khalayak ramai. Tulisan yang cerdas, cermat, menggelitik dan padat (sesuai standar Tempo).

Kelak, ketika menjadi presiden, GD tetap sebagai seorang berjiwa santri. Karena itu beliau enjoy saja mengundang para sahabatnya (tentu yang sudah jadi kiai) itu untuk datang ke istana negara. Karena jiwa santrinya yang melekat bersama dengan kepolosan-kepolosan yang tampak "ndeso" ini, Franz Magnis Suseno pernah heran melihat tumpukan beberapa kardus Sarimi berisi pakaian yang ada di sebelah ruang makan Istana Negara.
"Itu kardus isinnya pakaian siapa sih, kok ditumpuk begitu?" tanya pria kelahiran Jerman itu.
"Itu milik Presiden Gus Dur. Mau dibawa lawatan ke Tiongkok." kata seorang staf kepresidenan enteng.

Romo Magniz takjub sekaligus geleng-geleng: seorang kepala negara mengemas pakaiannya dalam kardus, persis orang mau mudik?


Diambil dari status facebook Gus Rijal Mumazziq Zionis

Klik Ikuti dan Konfirmasi untuk Mendapatkan Update

Menghabisi Afi karena membenci gagasannya


pecros.com - Percakapan tentang Afi anak umur 18 tahun kini makin ramai di berandaku. Entah itu para pembencinya, para pengkritiknya, maupun para pendukungnya. Akhirnya tenggelamlah berita kasus korupsi yang merugikan negara dan kasus pornografi yang merusak moral bangsa. Tak usah disebut siapa namanya, takut kena perkusi mbuh perkutut.

Jangan GR dulu, saya di sini juga enggak pingin ngomongin kasus duo tokoh sengkuni tersebut. Malah saya pingin ngomongin Afi juga biar kayak orang-orang.

Memang obrolan tentang Afi juga tak boleh dibiarkan menguap begitu saja, karena ada hal yang sangat esensial yaitu pesan-pesan yang dibawakannya. Isi pesan-pesan itu jauh lebih penting daripada sekedar pertanyaan apakah Afi menulisnya sendiri atau menjiplak tulisan orang lain.

Kenapa tulisan Afi sampai seviral itu hingga dibaca jutaan manusia. Dugaan saya, karena tulisan tersebut mengandung gagasan “frontal” yang belum tentu terpikirkan oleh orang dewasa. Apalagi penulisnya cuma seorang anak berusia 18 tahun. Terlepas dari pembaca yang setuju gagasan tersebut maupun yang menolaknya.

Mereka yang mempermasalahkan plagiat-plagiut bukanlah profesor-profesor bahasa bukan pula penulis aslinya. Namun ada dua tipe orang, yaitu mereka yang membenci gagasan Afi dan orang-orang yang iri karena kalah beken dengan anak kecil hahaha..


Tak masalah bagi orang-orang yang iri terhadap kepoluleran Afi, karena hal itu manusiawi. Namun, orang-orang yang ingin menghabisi Afi karena membenci gagasannya, membenci ajakan toleransi, membenci ajakan perdamaian, merindukan perang. Sorry, kalian tak layak tinggal di Indonesia guys. Indonesia bukan negara konflik. Jika kalian menginginkan perang, pergilah sana ke timur tengah. Saya sangat mendukung, asal yang kalian bela bukan ISIS namun rakyat yang tertindas di sana.

Salam damai

Klik Ikuti dan Konfirmasi untuk Mendapatkan Update